Ketika waktunya tiba

Yang fana adalah waktu rasanya ungkapan yang tepat sekali untuk kondisi beberapa waktu belakangan ini.

Begitu banyak duka, begitu banyak kehilangan dan kesedihan

Semua kejadian belakangan ini lagi-lagi membuat berpikir dalam-dalam, apakah kita sudah memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan baik? sudahkah kita memaknai hidup kita? sudah siapkah kita ketika tiba-tiba giliran kita yang harus “kembali”? dan sudah cukupkah bekal ketika harus menghadap-Nya?

Ramadan Tahun Ini

Hari ini sudah hari ke 15 ramadan tahun 1442H/2021, bagaimana kondisi ramadan tahun ini?

Setelah tahun lalu dimana berpuasa dalam kondisi pandemi awal pandemi dimana semua masih lockdown, tahun ini pastinya disambut dengan gegap gempita, karena Alhamdulillah kondisi sekarang sudah berangsur normal.

Apakah coronanya sudah pergi? tidak, corona masih ada, tapi kurva sudah mulai melandai dan semoga saja terus melandai dan tidak ada gelombang baru.

Ada perasaan senang karena bisa menyambut bulan puasa dengan semarak lagi, ada pasar ramadan, bisa taraweh dan Inshallah bisa sholat ied nanti.

Lucunya, saya pribadi sedikit merindukan moment ramadan tahun lalu ketika bisa fokus di rumah dan betul-betul menikmati ramadan secara privat.

Tapi banyak yang lebih harus disyukuri, Alhamdulillah masih diberi kesempatan berjumpa bulan ramadan, masih diberi kesehatan diri dan keluarga, dan Alhamdulillah diberi kesempatan mendapatkan rejeki pekerjaan lagi.

Banyak sisi lain yang dimaknai dari ramadan tahun ini, terutama setelah semua yang kita lalui sepanjang tahun lalu. Semoga dengan semua kesibukan dan normalnya aktifitas tidak menjadikan kita lupa dengan sukacita ibadah di bulan suci ini.

Karena kita manusia

Ketika berdoa kita dengan lantang berjanji yang muluk-muluk akan begini akan begitu, akan tetap seperti ini dan seperti itu.

Dan sekejap Tuhan mendengar dan mengabulkan doa, lebih dari apa yang kita bayangkan.

Lalu, apakah semudah itu kita menjalankan janji yang muluk-muluk tadi?

Doa sudah dikabulkan,loh! bahkan lebih!

Dan yang kita janjikan juga sebetulnya sederhana, sangat sederhana

Tapi, kenapa tidak mudah?

Tulisan menarik di Greatmind

Barusan saya membaca satu artikel menarik yang ditulis Dragono Halim di Greatmind, saya termasuk penggemar tulisan-tulisannya sejak di Linimasa, surprise juga tadi baru lihat kalau ternyata dia juga menulis untuk Greatmind, dan karena tulisan ini cukup mengena, saya sadur disini :

BAHAGIA & DERITA

Selama ini, kita terbiasa beranggapan bahwa kebahagiaan dan penderitaan berada di dua kutub yang saling berseberangan; keberadaan yang satu akan menghilangkan yang lain, saling menegasikan, saling menghancurkan. Anggapan itu pula yang mendorong kita agar selalu mengejar kebahagiaan, mencari dan melekati hal-hal yang dirasa membahagiakan, serta menghindari maupun mencegah terjadinya penderitaan dengan cara apa pun.

Padahal, tanpa kita sadari, kebahagiaan dan penderitaan muncul silih berganti; keduanya saling menggantikan dalam proses yang teramat cepat. Kebahagiaan tercipta ketika penderitaan sirna, sedangkan penderitaan muncul manakala kebahagiaan telah berlalu.

Kebahagiaan dan penderitaan muncul silih berganti. Kebahagiaan tercipta ketika penderitaan sirna, sedangkan penderitaan muncul manakala kebahagiaan telah berlalu.

Yang sejatinya terjadi adalah momen, dan pergantian dari satu momen ke momen lainnya. Kebahagiaan dan penderitaan merupakan kesan yang timbul, perasaan yang mengiringi setiap momen tersebut.

Izinkan saya menggunakan anak kecil dan es krim sebagai analogi.

Saat pergi berbelanja bersama ibunya, seorang anak melihat es krim dan langsung merengek minta dibelikan. Rengekan itu tidak diacuhkan selama beberapa waktu, hingga kemudian si anak kecil tadi menangis kencang, tetap dengan keinginannya untuk makan es krim. Sang ibu yang terganggu dan malu dengan pengunjung lain pun menuruti keinginan anaknya.

Dengan es krim di genggamannya, sang anak menjadi gembira. Cukup Anda bayangkan tingkah laku anak kecil yang kegirangan karena mendapatkan es krim. Saking girangnya, sang anak kurang fokus dan agak kehilangan keseimbangan saat berjalan. Es krim yang ia pegang terjatuh! Sontak, tangisannya kembali pecah, tak kalah heboh dibanding tangisan yang sebelumnya.

Jika kita amati, sang anak kecil tadi mengalami perubahan momen dari:

1.       Datang ke swalayan, belum ada keinginan (NETRAL)

2.       Sebegitu kuatnya ingin mendapatkan sesuatu (MENDERITA)

3.       Mendapatkan sesuatu yang diinginkan (BAHAGIA)

4.       Kehilangan sesuatu yang diperoleh sebelumnya (MENDERITA)

Apabila contoh di atas terkesan agak sederhana, yang berikut ini mungkin telah atau sedang Anda alami.

Sudah sejak pertengahan 2019 kita merencanakan liburan ke luar negeri. Kita telah menghitung target uang yang harus ditabung, bahkan telah membeli tiket pesawat dengan harga promo, disusul menyusun timeline sedemikian rupa untuk reservasi hotel, menyusun alur perjalanan (itinerary), mengajukan visa perjalanan, dan sebagainya.

Tiba waktunya di Februari 2020, tabungan berhasil dikumpulkan dengan susah payah. Rasa hati makin excited lantaran sebentar lagi bisa wisata impian. Tak disangka, pada Maret 2020 dunia seakan terbalik. Pandemi melanda. Semua aktivitas terhenti, termasuk penerbangan internasional dan aktivitas wisata. Negara tujuan liburan malah menutup perbatasannya, memberlakukan lockdown total yang tidak memungkinkan siapa saja untuk datang.

Sedih, kesal, kecewa bercampur jadi satu. Sayangnya, ingin marah sekeras apa pun, tidak akan mampu mengubah keadaan. Liburan impian hanya bisa dilupakan.

Silakan Anda kenali perubahan momen yang terjadi dalam contoh di atas. Coba identifikasi, mana yang memunculkan rasa bahagia dan derita.

Inilah yang dimaksud dengan kebahagiaan dan penderitaan silih berganti dalam pergantian momen kehidupan. Bukannya saling menghilangkan, keduanya justru ibarat kembar siam yang bersisian. Saat bahagia kita seakan-akan dibuat melayang, tetapi saat menderita kita merasa terpuruk begitu dalam.

Kenyataannya, segala sesuatu pasti berlalu. Apa pun yang terjadi, momen yang membahagiakan atau mengecewakan, life must go on! Walau sekuat apa pun kita menahannya, momen kebahagiaan bisa usai dan berlalu. Begitu juga sebaliknya.

Yang perlu kita lakukan ialah belajar mengubah persepsi. Belajar agar tidak terlampau mudah dihanyutkan perasaan sendiri.

Sadari

Sadar bahwa semuanya adalah momen yang silih berganti.

Ubah Persepsi

Sadar pula bahwa rasa bahagia dan derita adalah kesan yang timbul dari batin kita pada setiap momen yang terjadi.

Kendalikan Diri

Sadar bahwa sebaiknya tidak hanyut dengan perasaan. Mulai belajar mengamati batin dan gejolak yang timbul-tenggelam. Mulai belajar memiliki batin yang tak tergoyahkan.

Batin kita laksana lautan, perasaan ibarat angin. Manakala angin bertiup kencang, permukaan laut bergejolak. Menghasilkan ombak tinggi yang ganas dan membahayakan. Namun, seganas dan seberbahaya apa pun ombak menghempas, ia akan kembali menjadi buih, kembali ke keadaan awalnya.

Hai….

Baru buka blog ini lagi, untung gak salah password meski sempat gak yakin.

Setelah terbuka, kemudian sadar, OMG! ternyata 6 bulan gak update apa-apa di blog ini, gak buka sama sekali bahkan…

Saya kemana aja ya, yang jelas sih gak kemana-mana, karena kondisinya masih sama, jobless.

Kalau diingat lagi Juni itu mulai ada geliat kehidupan lagi, saat itu sudah mulai era-era “new normal” meski masih pro kontra, dan tetap sih berlanjut sampai sekarang pro kontranya, dan pandemi? oh, jangan sedih! masih ada sayang, ada!

Jadi, apa yang saya lakukan 6 bulan ini? ya, gak banyak, dengan minimnya aktifitas yang bisa dilakukan di rumah, cuma yang saya ingat Juni itu mulai ada tawaran untuk mengisi kelas lagi di Intersky yang akhirnya dapat jadwal mulai ngajar di bulan Juli, dan Alhamdulillah berjalan hingga Oktober-November.

Dengan jadwal kelas 2 x seminggu paling gak saya ada escape setiap minggunya dan refresh diri dengan mengajar di kelas.

Mungkin karena rindu dengan aktifitas, semua yang saya lakukan betul-betul saya usahakan all out, termasuk mengajar. Kalau dulu hanya dengan waktu yang tersisa, dengan kondisi tubuh yang lelah dan persiapan materi yang minim, itupun kadang harus skip kelas karena tabrakan dengan jadwal kerjaan ataupun lainnya.

Kali ini, kelas saya berjalan full tanpa skip 1 kelas pun, hadir on time bahkan semua materi saya persiapkan jauh-jauh hari sehingga lebih siap dan lebih enak deliver ke anak-anak di kelas, saya pun secara personal lebih banyak waktu untuk engage dengan anak-anak dan mengenal mereka lebih personal.

Saya selalu suka mengajar, tapi kali ini saya benar-benar menikmati setiap kelas yang saya hadiri, berinteraksi lebih dalam dan bisa lebih banyak berdiskusi dengan management.

Meski datar-datar saja, tapi ternyata 6 bulan berhasil dilewati lagi, dan ternyata saya rindu menulis.

Basic level

Sama dengan banyak orang lainnya yang harus berdiam di rumah karena pandemi, salah satu kegiatan yang rutin dilakukan adalah memasak.
Meskipun sebetulnya saya hanya membuat yang standard saja untuk sehari-hari dan tidak terlalu sering explore resep baru.

 

Kegiatan memasak ini akhirnya membuat saya belajar, bahwa memasak itu butuh teknik basic, makanya mungkin kita sering dengar orang mencoba duplikasi resep tapi rasanya tetap tak sama padahal ukuran bahan sama persis, kalau orang jaman dulu akan memberikan argumen “beda tangan beda rasa”, iya benar juga sih karena mungkin tangan yang satu tidak menguasai teknik yang sama dengan si empunya resep.

Sesederhanaberapa lama harus mengaduk adonannya, bagaimana proses menyimpan, kualitas tempat, suhu dll semua bisa saja memberikan dampak ke kualitas makanan yang kita buat.

Pada akhirnya teknik-teknik itu bisa kita kuasai dengan bertambahnya jam terbang dalam urusan permasakan ini.
Selain teknik, saya juga belajar beberapa bumbu dasar yang nyaris tidak pernah gagal meningkatkan kualitas rasa makanan.
Diantaranya:
Jahe + bawang putih untuk sesuatu yang di oseng, di tambah minyak wijen atau zaitun, fix deh itu aroma dapurmu udah gak kalah ama warung nasgor arema.
Saos tiram jangan lupakan si kuncen ini yang membuat tumisan jadi semakin kaya rasa, apapun osengannya kalau udah di kasih saus tiram rasanya masakan kita udah setara ama restoran cina langganan 😅
ketumbar dan bawang putih untuk bumbu dasar segala sesuatu yang akan di goreng tepung. Percaya deh aroma dan rasa bakal Makin cihuy!
Masih dari urusan gorengan biasanya menggunakan tepung beras menghasilkan gorengan yang lebih renyah dari tepung terigu tapi ternyata menambahkan sedikit soda kue bisa membuat adonan terigu tak kalah renyahnya.
Apalagi ya? sementara sih itu aja yang sudah saya coba dan praktekkan dan menurut saya never failed.
Selebihnya masih akan terus mencoba dan tak lupa mengasah teknik-teknik memasak lainnya.

Benar dan tidak benar

Apa yang dinilai benar, belum tentu benar.
Apa yang dinilai benar, belum tentu tidak benar.
Apa yang dinilai tidak benar, belum tentu benar.
Apa yang dinilai tidak benar, belum tentu tidak benar.
Apa yang dinilai benar, belum tentu benar maupun tidak benar.
Apa yang dinilai tidak benar, belum tentu benar maupun tidak benar.
Apa yang dinilai benar atau tidak benar, belum tentu benar atau tidak benar.
Apa yang dinilai bukan benar atau bukan tidak benar, belum tentu benar atau tidak benar.

Buku “Orang Maiyah” by Emha Ainun Nadjib

IMG_20200609_114937

Tulisan Cak Nun tidak mungkin minim makna, meski buku ini termasuk tipis tapi luas sekali pemahaman yang bisa diambil.
Dan disini tidak mutlak tulisan dari Cak Nun, tapi beliau banyak mengutip tulisan dari Jamaah Maiyah yang menuangkan sudut pandang dan pengalaman hidup mereka dalam tulisan yang apik.

Melalui buku ini kita belajar tentang pencarian diri, memaknai hidup, menjadi manusia dengan agama sebagai pegangan tanpa merasa digurui.
Karena pengalaman yang dituliskan terasa dekat, bahkan mungkin sejatinya tulisan itu adalah “kita”.
Seperti di salah satu bab yang menurut saya menarik, tentang “Sebatang Rokok Kretek yang Patah” dari tulisan itu kita belajar bagaimana tentang takdir, tentang waktu yang tepat dan hal-hal kecil tentang hidup yang dimaknai dari sebuah perkara rokok kretek yang patah.

Tulisan itu seolah mengingatkan, mungkin kita sering ada di posisi itu, dengan kondisi yang bisa jadi berbeda, tapi “mata” kita tidak melihatnya secara dalam dan luas sebagaimana dituliskan di buku ini.

Juga memaknai keikhlasan dan ridha di dalam bab “Keikhlasan Induk Ayam”
ada potongan tulisan yang menohok disana “Cak Nun sering bilang bahwa kalau kita berbuat baik maka alasan satu-satunya adalah karena kita ingin berbuat baik karena Allah. Titik. Tiada koma apalagi titik dua”.

IMG_20200609_115816

The Moment

IMG_20200608_111459_283

Kemarin, untuk hari yang spesial aku mencoba mentreat diri dengan membangun mood sejak pagi.

Memulai pagi dengan jalan kaki, mengajak kaki menanjak, memompa paru-paru dan menghirup udara sejuk sebanyak-banyaknya.

Menikmati hari dengan pelan, memaknai lagi semua perjalanan, refleksi dan semoga bisa menjadi titik balik untuk membangun diri yang baru.

Berdoa, menikmati musik, menggambar dan menghadiahi diri sendiri dengan boleh membuka satu buku baru jadi rangkaian menyenangkan disela-sela menerima telpon, membalas ucapan selamat yang berlanjut dengan ngobrol ringan, hunting lowongan pekerjaan dan membaca buku online yang belum selesai.

Terima kasih untuk Sang Maha Cinta, yang sudah mengijinkan dan memberikan kesempatan berjalan sejauh ini, terima kasih Mama untuk perjuangan hidup dan mati dan banyak lagi perjuangan hidup yang harus dipertaruhkan setelahnya, terima kasih keluarga,sahabat dan teman-teman yang selalu ada meyertai perjalanan, dan terima kasih diri, karena tetap bertahan, tetap belajar, dan tetap berjalan.

IMG_20200608_220852

Delapan enam duapuluh duapuluh

Tadinya aku pikir hanya Google dan Zalora yang mengucapkan ulang tahun kepadaku hari ini.

Ternyata aku salah, malam ini di penghujung hari, aku betul-betul merasa bersyukur atas begitu banyak kasih sayang dan cinta yang tercurah kepadaku sepanjang hari melalui video ucapan, ucapan via text WA, postingan story hingga video call dan telpon.

Karena aku sedang berjarak dengan sosial media dan tidak bisa memposting ulang semua unggahan atau chat mereka, jadi aku ingin menyimpannya disini, sebagai penanda masa.

Yang pertama selain Kak Nazry, pastinya the one and only, Pena dan Buku kesayangan. Niat banget nih Rinne bikinnya, sayang banget gak bisa upload video disini, jadi kasih screenshot bumpernya aja. Mungkin nanti aku upload di YouTube aja dan link kan kemari.

IMG_20200608_224032

Eh, bener dong, bisa link dari YouTube

 

Jika dibandingkan dengan orang-orang di medsos yang ucapannya kayak jahitan, mungkin ini sebenarnya gak ada apa-apanya, tapi buat aku ucapan-ucapan ini sangat berarti dan dikirimkan dengan penuh kasih dari orang-orang yang juga aku sayangi.

Aku beruntung kenal dan memiliki mereka.

20200608_214158_0000

20200608_213053_0000

20200608_215122_0000

20200608_220053_0000

20200608_222712_0000

IMG_20200608_230149

“Dimanapun kalian berada, kukirimkan terima kasih,

Untuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah,

Kau melukis aku”

 

Terima Kasih,

With love,

Yusna